Perjalanan panjang yang telah dijalani selama berada di Perladangan sawit tidak menghilangkan semangat untuk mendidik anak-anaknya untuk belajar lebih baik demi cita-cita lebih daripada itu untuk merubah kondisi keluarga yang serba tidak menentu. Inilah potret keluarga Bapak Loren TKI asal Lembata NTT yang sekarang ini sedang mengadu nasib di Sabah tepatnya Ladang Haranky Kwantas Plantation.
Jarang orang tua yang berpandangan hidup seperti Bapak Loren ini, "Asalkan anak-anak saya bisa belajar kembali dengan baik di Indonsia, saya tak kisah dengan kesedihan saya harus berpisah dengan anak yang saya kasihi", ungkapnya. Bapak Loren merupakan salah satu dari orang tua yang mengirimkan anaknya yang bernama Ratna (Murid perempuan memakai seragam pramuka-red) untuk belajar di Nunukan.
Seharusya seperti itulah pandangan para orang tua yang jika tidak mau anaknya akan bernasib sama seperti bapaknya yang hanya bekerja sebagai buruh kasar dengan penghasilan pas-pasan. Ironis memang Para Orang tua ialah TKI sebagai Buruh di perladangan kelapa sawit yang bekerja hanya untuk keuntungan majikan sementara nasib pendidikan anak-anaknya tidak diperhatikan. Sementara jika pihak manajemen ladang membuka sekolah untuk kepentingan pendidikan anak-anak TKI maka sebenarnya adalah uapaya untuk mempertahankan agar orang tuanya betah bekerja dan tidak meninggalkan pekerjaannya. Kenyataan sekolah yang dibuka tersebut dana operasionalnya masih memotong dari gaji orang tua yang menyekolahkan anaknya. padahal gaji mereka sangat kecil. Banyak orang tua yang mengeluh namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Dengan kata lain akankah cita-cita setiap anak didik dapat diwujudkan jika mereka tetap memperoleh pelayanan pendidikan yang dikelola hanya demi keuntungan pihak tertentu?
No comments:
Post a Comment