Thursday, September 27, 2007
Man from Pontianak
Pembangunan nasional di bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan manusia yang maju, adil dan makmur, serta memungkinkan para warganya mengembangkan diri baik berkenaan dengan aspek jasmaniah maupun ruhaniah berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (UU No.2 Tahun 1989).
Kondisi tersebut di atas hampir-hampir tidak dapat dirasakan dan dialami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI), yang berada di Malaysia khususnya negeri Sabah, betapa tidak anak-anak Tenaga Kerja Indonesia yang sudah bersekolah di Sekolah Rendah (setingkat SD) dan Sekolah Menengah Kebangsaan setingkat SLTP) tidak di benarkan melanjutkan pelajaran mereka atau mereka dikeluarkan dari sekolah hanya dikarenakan orang tua mereka bekerja sebagai buruh di perkebunan kelapa sawit yang hanya menggunakan dokumen passport, sebut saja Sekolah Kebangsaan Jeroco di Lahad Datu, Sekolah Kebangsaan Ladang Kertam Bukit Garam Kinabatangan, Sekolah Kebangsaan Labuk Estate Sandakan maupun Sekolah Kebangsaan Bombalai Tawau. Dan masih banyak lagi sekolah-sekolah lain.
Misalnya saja Sekolah Kebangsaan Bombalai di Tawau dengan kepala sekolah Encik Acho’ telah mengeluarkan 58 orang murid, 29 orang diantaranya mempunyai dokumen lengkap yaitu surat keterangan lahir di Malaysia serta passport ibu/bapaknya masih berlaku, sedangkan 29 orang murid lagi tidak memiliki surat keterangan lahir. Fenomena di atas sangat menggiriskan nasib murid-murid yang ingin melanjutkan sekolah mereka, sementara itu upaya diplomasi juga telah dilakukan oleh kepala sekolah tersebut ke jabatan pelajaran Sabah namun tidak menuai hasil, sedangkan kerajaan Malaysia sama sekali tidak merespon permasalahan tersebut bahkan cenderung membiarkan saja murid-murid tetap tidak bersekolah, sebab jika mereka mengijinkan anak-anak tersebut tetap bersekolah maka mereka sendiri mengingkari Memorandum of Understanding on Recruitment of Indonesian Workers Between the Government of Malaysia and The Government of The Republic of Indonesian tentang ketenagakerjaan dan keimigrasian. Hingga saat ini jumlah angka anak-anak di bawah usia 13 tahun yang tidak dapat mengenyam pendidikan hasil survey sementara dari Borneo Samudera Sendirian Berhad Plantation (salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar) diperkirakan lebih dari 72.000 orang.
Demikianlah kondisi real yang dapat saya (ia-red) anak-anak TKI yang dapat dideskripsikan, selebihnya hanya Tuhan yang mengetahui bagaimana sebenarnya kehidupan mereka sehari-hari. Ia lahir di Malang Jawa Timur pada 16 Agustus 1978. Pada Tahun 1983 ia hijrah mengikuti orang tuaya transmigrasi ke Potianak Kalimantan Barat. SD dan SMP di kampungnya desa Emparu kecamatan Dedai kabupaten Sintang. SMK Khairul Mukminin di Kota Kabupaten dan melanjutkan kuliah tahun 1998 di Universitas Tanjungpura Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, tamat tahun 2006. Berbagai aktivitas telah diikutinya hingga sekarang menjadi guru tidak tetap di Sabah Malaysia.
Wednesday, September 26, 2007
Ku Gapai Cita-citaku di Tanah Air
Berdiri dari kiri : Ratna, Rafiani, Hermanton dan Ardy
Perjalanan panjang yang telah dijalani selama berada di Perladangan sawit tidak menghilangkan semangat untuk mendidik anak-anaknya untuk belajar lebih baik demi cita-cita lebih daripada itu untuk merubah kondisi keluarga yang serba tidak menentu. Inilah potret keluarga Bapak Loren TKI asal Lembata NTT yang sekarang ini sedang mengadu nasib di Sabah tepatnya Ladang Haranky Kwantas Plantation.
Jarang orang tua yang berpandangan hidup seperti Bapak Loren ini, "Asalkan anak-anak saya bisa belajar kembali dengan baik di Indonsia, saya tak kisah dengan kesedihan saya harus berpisah dengan anak yang saya kasihi", ungkapnya. Bapak Loren merupakan salah satu dari orang tua yang mengirimkan anaknya yang bernama Ratna (Murid perempuan memakai seragam pramuka-red) untuk belajar di Nunukan.
Seharusya seperti itulah pandangan para orang tua yang jika tidak mau anaknya akan bernasib sama seperti bapaknya yang hanya bekerja sebagai buruh kasar dengan penghasilan pas-pasan. Ironis memang Para Orang tua ialah TKI sebagai Buruh di perladangan kelapa sawit yang bekerja hanya untuk keuntungan majikan sementara nasib pendidikan anak-anaknya tidak diperhatikan. Sementara jika pihak manajemen ladang membuka sekolah untuk kepentingan pendidikan anak-anak TKI maka sebenarnya adalah uapaya untuk mempertahankan agar orang tuanya betah bekerja dan tidak meninggalkan pekerjaannya. Kenyataan sekolah yang dibuka tersebut dana operasionalnya masih memotong dari gaji orang tua yang menyekolahkan anaknya. padahal gaji mereka sangat kecil. Banyak orang tua yang mengeluh namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Dengan kata lain akankah cita-cita setiap anak didik dapat diwujudkan jika mereka tetap memperoleh pelayanan pendidikan yang dikelola hanya demi keuntungan pihak tertentu?
Guru Boonrich Estate Humana House 97
Murnilawaty lailan H. Ahmidsyah YM
Lahir di Samarinda pada hari Senin 12 Mei 1981. Dari pasangan H.Achmidsyah YM dan Hj. Arniah anak pertama dari lima bersaudara yang telah menyelesaikan pendidikan di Universitas Mulawarman Fakultas Kehutanan tahun 2004.
Setelah dinyatakan lulus dan diterima sebagai guru tidak tetap oleh Departemen Pendidikan Nasional Dirjen PMPTK untuk menangani pendidikan bagi anak-anak TKI di Sabah Malaysia. Ia merupakan kelompok I pemberangkatan kedua sampai di Tawau pada tanggal 11 September 2006 dan mendapatkan tugas mengajar pertama di Tangkulap Estate Humana House N0. 46.
Berbagai suka dan duka mengiringi perjalanan selama mengajar di Tangkulap yang kondisi geografisnya terletak di wilayah Sandakan district. Dari Lahad Datu sebagai central Humana ditempuh perjalanan selama kurang lebih 5 jam sampai 6 jam. Bertugas kurang lebih selama 3 bulan kemudian dimutasi ke Tongod untuk membuka sekolah baru. Perjalanan yang sangat melelahkan dengan kondisi jalan yang sangat rusak ia sampai di Tongod. Namun sekolah dan fasilitasnya sama sekali belum siap maka dua minggu kemudian dipindahkan lagi untuk membuka sekolah baru di Suan Lamba. Di Suan Lamba mengajar kurang lebih 4 bulan karena harus di mutasi ke Boonrich untuk membuka sekolah baru lagi. Sampai sekarang ia masih mengajar di boonrich dan berharap tidak diminta untuk membuka sekolah baru lagi. Karena proses kepindahan dari satu tempat ke tampat lain sangat berat.
Aku ingin pulang.....
Kemanapun aku pergi
bayang-bayangmu mengejar
bersembunyi di manapun
selalu engkau temukan
aku merasa letih dan ingin sendiri.......
aku ingin pulang......
Ungkapan dari petikan bait-bait lagu yang dinyanyikan oleh Ebiet tersebut barangkali mewakili wajah melas anak-anak TKI untuk mendapatkan pendidikan yang layak di tanah air namun apa daya, mereka tetap juga tidak mampu untuk melakakukan hal itu. Banyak faktor yang menyebabkan mereka harus tetap tinggal bersama orang tua dan keluarganya di perladangan sawit. "Apa boleh buat pak guru", jawab mereka singkat.............
Habis Terang, Mendung Membayangi...
Program penanganan bagi pendidikan Anak-anak TKI di Sabah memberikan angin segar dan secercah harapan bagi pekerja yang memiliki anak usia sekolah, selama ini mereka sangat prihatin lantaran anak-anaknya tidak sekolah. Kedatangan 109 guru Indonesia memberikan makna tersendiri dalam sanubari mereka bahwa nasib masyarakat Indonesia di luar negeri masih mendapat perhatian dalam bidang pendiikan dari pemerintah Republik Indonesia. Sehingga presentase jumlah murid yang ekolah di pusat bimbingan Humana dalam satu tahun terakhir ini meningkat rata-rata 70% hingga 80%. Artinya animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya agar tidak menjadi masyarakat buta huruf sangat tinggi. Antusias masyarakat juga sangat jelas terlihat dengan beberapa usaha mereka sendiri secara individu dengan menyekolahkan anaknya di Sekolah kebangsaan walaupun harus dengan biaya mahal.
Seiring fajar cerah di pagi hari harapan masyarakat akan pendidikan anak-anaknya di perladangan sawit akan membawa perubahan pada setiap aspek kehidupan mereka di perantauan. Misalanya saja sekarang, sampai kapan program penanganan pendidikan anak-anak TKI ini akan tetap eksis, tidak mustahil program ini akan berhenti begitu saja di tengah jalan jika tidak ditangani dengan serius oleh kedua pemerintahan baik Indonesia maupun Malaysia. Apalagi oleh pemerintah Indonesia sendiri yang telah menghabiskan dana yang tidak sedikit.
Banyak pihak berharap program ini akan berkelanjutan terutama para TKI hingga anak-anak mereka dapat menikmati pendidikan gratis (dalam arti sebenarnya) sampai anaknya tamat Sekolah Dasar bahkan sekolah lanjutan dan pada akhirnya mereka akan menjadi tenaga kerja yang memiliki keterampilan mahir dan tetap bekerja di perantauan. Selanjutnya apa yang diperoleh Pemerintah Indonesia dengan program tersebut? Silahkan anda menjawabnya sendiri .......................
Subscribe to:
Posts (Atom)