Wednesday, September 26, 2007

Habis Terang, Mendung Membayangi...

Apel setiap pagi murid-murid Boonrich

Program penanganan bagi pendidikan Anak-anak TKI di Sabah memberikan angin segar dan secercah harapan bagi pekerja yang memiliki anak usia sekolah, selama ini mereka sangat prihatin lantaran anak-anaknya tidak sekolah. Kedatangan 109 guru Indonesia memberikan makna tersendiri dalam sanubari mereka bahwa nasib masyarakat Indonesia di luar negeri masih mendapat perhatian dalam bidang pendiikan dari pemerintah Republik Indonesia. Sehingga presentase jumlah murid yang ekolah di pusat bimbingan Humana dalam satu tahun terakhir ini meningkat rata-rata 70% hingga 80%. Artinya animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya agar tidak menjadi masyarakat buta huruf sangat tinggi. Antusias masyarakat juga sangat jelas terlihat dengan beberapa usaha mereka sendiri secara individu dengan menyekolahkan anaknya di Sekolah kebangsaan walaupun harus dengan biaya mahal.

Seiring fajar cerah di pagi hari harapan masyarakat akan pendidikan anak-anaknya di perladangan sawit akan membawa perubahan pada setiap aspek kehidupan mereka di perantauan. Misalanya saja sekarang, sampai kapan program penanganan pendidikan anak-anak TKI ini akan tetap eksis, tidak mustahil program ini akan berhenti begitu saja di tengah jalan jika tidak ditangani dengan serius oleh kedua pemerintahan baik Indonesia maupun Malaysia. Apalagi oleh pemerintah Indonesia sendiri yang telah menghabiskan dana yang tidak sedikit.

Banyak pihak berharap program ini akan berkelanjutan terutama para TKI hingga anak-anak mereka dapat menikmati pendidikan gratis (dalam arti sebenarnya) sampai anaknya tamat Sekolah Dasar bahkan sekolah lanjutan dan pada akhirnya mereka akan menjadi tenaga kerja yang memiliki keterampilan mahir dan tetap bekerja di perantauan. Selanjutnya apa yang diperoleh Pemerintah Indonesia dengan program tersebut? Silahkan anda menjawabnya sendiri .......................

No comments: